Rabu, 31 Mei 2017
Jumat, 28 April 2017
ILMU SOSIAL DASAR & RUANG LINGKUPNYA
STRUKTUR DASAR PROSES ANTRIAN
Antrian adalah suatu kejadian yang biasa dalam kehidupan
sehari–hari. Antrian yang sangat panjang dan terlalu lama untuk memperoleh
giliran pelayanan sangatlah menjengkelkan. Rata – rata lamanya waktu menunggu
(waiting time) sangat tergantung kepada rata – rata tingkat kecepatan pelayanan
(rate of services). Teori tentang antrian diketemukan dan dikembangkan oleh A.
K. Erlang, seorang insinyur dari Denmark yang bekerja pada perusahaan telepon
di Kopenhagen pada tahun 1910. Erlang melakukan eksperimen tentang fluktuasi
permintaan fasilitas telepon yang berhubungan dengan automatic dialing equipment,
yaitu peralatan penyambungan telepon secara otomatis. Dalam waktu – waktu yang
sibuk operator sangat kewalahan untuk melayani para penelepon secepatnya,
sehingga para penelepon harus antri menunggu giliran, mungkin cukup lama.
Persoalan aslinya Erlang hanya memperlakukan perhitungan
keterlambatan (delay) dari seorang operator, kemudian pada tahun 1917
penelitian dilanjutkan untuk menghitung kesibukan beberapa operator. Dalam
periode ini Erlang menerbitkan bukunya yang terkenal berjudul Solution of some
problems in the theory of probabilities of significance in Automatic Telephone
Exhange. Baru setelah perang dunia kedua, hasil penelitian
Erlang diperluas penggunaannya antara lain dalam teori antrian (Supranto, 1987)
B. Pengertian Antrian
Menurut Siagian (1987), antrian ialah suatu garis tunggu dari
nasabah (satuan) yang memerlukan layanan dari satu atau lebih pelayan
(fasilitas layanan). Pada umumnya, sistem antrian dapat diklasifikasikan
menjadi sistem yang berbeda – beda di mana teori antrian dan simulasi sering
diterapkan secara luas. Klasifikasi menurut Hil ier dan Lieberman adalah
sebagai berikut :
1. Sistem pelayanan komersial
2. Sistem pelayanan bisnis – industri
3. Sistem pelayanan transportasi
4. Sistem pelayanan social
1. Sistem pelayanan komersial
2. Sistem pelayanan bisnis – industri
3. Sistem pelayanan transportasi
4. Sistem pelayanan social
Sistem pelayanan komersial merupakan aplikasi yang sangat luas
dari model – model antrian, seperti restoran, kafetaria, toko – toko, salon,
butik, supermarket, dan sebagainya.
Sistem pelayanan bisnis – industri mencakup lini produksi,
sistem material – handling, sistem pergudangan, dan sistem – sistem informasi
komputer. Sistem pelayanan sosial merupakan sistem – sistem pelayanan yang
dikelola oleh kantor – kantor dan jawatan – jawatan lokal maupun nasional,
seperti kantor registrasi SIM dan STNK, kantor pos, rumah sakit, puskesmas, dan
lain – lain (Subagyo, 2000).
C. Komponen Dasar Antrian
Komponen dasar proses antrian adalah :
1. Kedatangan
Komponen dasar proses antrian adalah :
1. Kedatangan
Setiap masalah antrian melibatkan kedatangan, misalnya orang,
mobil, panggilan telepon untuk dilayani, dan lain – lain. Unsur ini sering
dinamakan proses input. Proses input meliputi sumber kedatangan atau biasa
dinamakan calling population, dan cara terjadinya kedatangan yang umumnya
merupakan variabel acak. Menurut Levin, dkk (2002), variabel acak adalah suatu
variabel yang nilainya bisa berapa saja sebagai hasil dai percobaan acak.
Variabel acak dapat berupa diskrit atau kontinu. Bila variabel acak hanya
dimungkinkan memiliki beberapa nilai saja, maka ia merupakan variabel acak
diskrit. Sebaliknya bila nilainya dimungkinkan bervariasi pada rentang
tertentu, ia dikenal sebagai variabel acak kontinu.
2. Pelayan
2. Pelayan
Pelayan atau mekanisme pelayanan dapat terdiri dari satu atau
lebih pelayan, atau satu atau lebih fasilitas pelayanan. Tiap – tiap fasilitas
pelayanan kadang – kadang disebut sebagai saluran (channel) (Schroeder, 1997).
Contohnya, jalan tol dapat memiliki beberapa pintu tol. Mekanisme pelayanan
dapat hanya terdiri dari satu pelayan dalam satu fasilitas pelayanan yang
ditemui pada loket seperti pada penjualan tiket di gedung bioskop.
3. Antri
3. Antri
Inti dari analisa antrian adalah antri itu sendiri. Timbulnya
antrian terutama tergantung dari sifat kedatangan dan proses pelayanan. Jika
tak ada antrian berarti terdapat pelayan yang menganggur atau kelebihan
fasilitas pelayanan (Mulyono, 1991).
Penentu antrian lain yang penting adalah disiplin antri.
Disiplin antri adalah aturan keputusan yang menjelaskan cara melayani
pengantri. Menurut Siagian (1987), ada 5 bentuk disiplin pelayanan yang biasa
digunakan, yaitu :
1. FirstCome FirstServed (FCFS) atau FirstIn FirstOut (FIFO) artinya, lebih dulu datang (sampai), lebih dulu dilayani (keluar). Misalnya, antrian pada loket pembelian tiket bioskop.
2. LastCome FirstServed (LCFS) atau LastIn FirstOut (LIFO) artinya, yang tiba terakhir yang lebih dulu keluar. Misalnya, sistem antrian dalam elevator untuk lantai yang sama.
3. Service In Random Order (SIRO) artinya, panggilan didasarkan pada peluang secara random, tidak soal siapa yang lebih dulu tiba.
4. Priority Service (PS) artinya, prioritas pelayanan diberikan kepada pelanggan yang mempunyai prioritas lebih tinggi dibandingkan dengan pelanggan yang mempunyai prioritas lebih rendah, meskipun yang terakhir ini kemungkinan sudah lebih dahulu tiba dalam garis tunggu. Kejadian seperti ini kemungkinan disebabkan oleh beberapa hal, misalnya seseorang yang dalam keadaan penyakit lebih berat dibanding dengan orang lain dalam suatu tempat praktek dokter.
1. FirstCome FirstServed (FCFS) atau FirstIn FirstOut (FIFO) artinya, lebih dulu datang (sampai), lebih dulu dilayani (keluar). Misalnya, antrian pada loket pembelian tiket bioskop.
2. LastCome FirstServed (LCFS) atau LastIn FirstOut (LIFO) artinya, yang tiba terakhir yang lebih dulu keluar. Misalnya, sistem antrian dalam elevator untuk lantai yang sama.
3. Service In Random Order (SIRO) artinya, panggilan didasarkan pada peluang secara random, tidak soal siapa yang lebih dulu tiba.
4. Priority Service (PS) artinya, prioritas pelayanan diberikan kepada pelanggan yang mempunyai prioritas lebih tinggi dibandingkan dengan pelanggan yang mempunyai prioritas lebih rendah, meskipun yang terakhir ini kemungkinan sudah lebih dahulu tiba dalam garis tunggu. Kejadian seperti ini kemungkinan disebabkan oleh beberapa hal, misalnya seseorang yang dalam keadaan penyakit lebih berat dibanding dengan orang lain dalam suatu tempat praktek dokter.
Dalam hal di atas telah dinyatakan bahwa entitas yang berada
dalam garis tunggu tetap tinggal di sana sampai dilayani. Hal ini bisa saja
tidak terjadi. Misalnya, seorang pembeli bisa menjadi tidak sabar menunggu
antrian dan meninggalkan antrian. Untuk entitas yang meninggalkan antrian
sebelum dilayani digunakan istilah pengingkaran (reneging). Pengingkaran dapat
bergantung pada panjang garis tunggu atau lama waktu tunggu. Istilah penolakan
(balking) dipakai untuk menjelaskan entitas yang menolak untuk bergabung dalam
garis tunggu (Setiawan, 1991)
D. Struktur Antrian
Ada 4 model struktur antrian dasar yang umum terjadi dalam seluruh sistem antrian :
1. Single Channel – Single Phase
Single Channel berarti hanya ada satu jalur yang memasuki sistem pelayanan atau ada satu fasilitas pelayanan. Single Phase berarti hanya ada satu pelayanan.
2. Single Channel – Multi Phase
Istilah Multi Phase menunjukkan ada dua atau lebih pelayanan yang dilaksanakan secara berurutan (dalam phasephase). Sebagai contoh : pencucian mobil.
3. Multi Channel – Single Phase
Sistem Multi Channel – Single Phase terjadi kapan saja di mana ada dua atau lebih fasilitas pelayanan dialiri oleh antrian tunggal, sebagai contoh model ini adalah antrian pada teller sebuah bank.
4. Multi Channel – Multi Phase
Sistem Multi Channel – Multi Phase ditumjukkan dalam Gambar 2.5. Sebagai contoh, herregistrasi para mahasiswa di universitas, pelayanan kepada pasien di rumah sakit mulai dari pendaftaran, diagnosa, penyembuhan sampai pembayaran. Setiap sistem – sistem ini mempunyai beberapa fasilitas pelayanan pada setiap tahapnya
5. Mekanisme Pelayanan
Ada 4 model struktur antrian dasar yang umum terjadi dalam seluruh sistem antrian :
1. Single Channel – Single Phase
Single Channel berarti hanya ada satu jalur yang memasuki sistem pelayanan atau ada satu fasilitas pelayanan. Single Phase berarti hanya ada satu pelayanan.
2. Single Channel – Multi Phase
Istilah Multi Phase menunjukkan ada dua atau lebih pelayanan yang dilaksanakan secara berurutan (dalam phasephase). Sebagai contoh : pencucian mobil.
3. Multi Channel – Single Phase
Sistem Multi Channel – Single Phase terjadi kapan saja di mana ada dua atau lebih fasilitas pelayanan dialiri oleh antrian tunggal, sebagai contoh model ini adalah antrian pada teller sebuah bank.
4. Multi Channel – Multi Phase
Sistem Multi Channel – Multi Phase ditumjukkan dalam Gambar 2.5. Sebagai contoh, herregistrasi para mahasiswa di universitas, pelayanan kepada pasien di rumah sakit mulai dari pendaftaran, diagnosa, penyembuhan sampai pembayaran. Setiap sistem – sistem ini mempunyai beberapa fasilitas pelayanan pada setiap tahapnya
5. Mekanisme Pelayanan
Ada 3 aspek yang harus
diperhatikan dalam mekanisme pelayanan, yaitu :
1. Tersedianya pelayanan
1. Tersedianya pelayanan
Mekanisme pelayanan
tidak selalu tersedia untuk setiap saat. Misalnya dalam pertunjukan bioskop,
loket penjualan karcis masuk hanya dibuka pada waktu tertentu antara satu
pertunjukan dengan pertunjukan berikutnya. Sehingga pada saat loket ditutup,
mekanisme pelayanan terhenti dan petugas pelayanan (pelayan) istirahat.
2. Kapasitas pelayanan
Kapasitas dari mekanisme pelayanan diukur berdasarkan jumlah
langganan yang dapat dilayani secara bersama – sama. Kapasitas pelayanan tidak
selalu sama untuk setiap saat; ada yang tetap, tapi ada juga yang berubah –
ubah. Karena itu, fasilitas pelayanan dapat memiliki satu atau lebih saluran.
Fasilitas yang mempunyai satu saluran disebut saluran tunggal atau sistem
pelayanan tunggal dan fasilitas yang mempunyai lebih dari satu saluran disebut
saluran ganda atau pelayanan ganda.
3. Lamanya pelayanan
3. Lamanya pelayanan
Lamanya pelayanan adalah waktu yang dibutuhkan untuk melayani
seorang langganan atau satu – satuan. Ini harus dinyatakan secara pasti. Oleh
karena itu, waktu pelayanan boleh tetap dari waktu ke waktu untuk semua
langganan atau boleh juga berupa variabel acak. Umumnya dan untuk keperluan
analisis, waktu pelayanan dianggap sebagai variabel acak yang terpencar secara
bebas dan sama serta tidak tergantung pada waktu pertibaan (Siagian, 1987).
6. Model – model Antrian
6. Model – model Antrian
Pada pengelompokkan model – model antrian yang berbeda – beda
akan digunakan suatu notasi yang disebut dengan Notasi Kendall. Notasi ini
sering dipergunakan karena beberapa alas an. Diantaranya, karena notasi
tersebut merupakan alat yang efisien untuk mengidentifikasi tidak hanya model –
model antrian, tetapi juga asumsi – asumsi yang harus dipenuhi (Subagyo, 2000).
Format umum model : (a/b/c);(d/e/f)
di mana :
a = distribusi pertibaan / kedatangan (arrival distribution), yaitu jumlah pertibaan pertambahan waktu.
b = distribusi waktu pelayanan / perberangkatan, yaitu selang waktu antara satuan – satuan yang dilayani (berangkat).
c = jumlah saluran pelayanan paralel dalam sistem.
d = disiplin pelayanan.
e = jumlah maksimum yang diperkenankan berada dalam sistem (dalam pelayanan ditambah garis tunggu).
f = besarnya populasi masukan.
Keterangan :
1. Untuk huruf a dan b, dapat digunakan kode – kode berikut sebagai pengganti :
M = Distribusi pertibaan Poisson atau distribusi pelayanan (perberangkatan) eksponensial; juga sama dengan distribusi waktu antara pertibaan eksponensial atau distribusi satuan yang dilayani Poisson.
D = Antarpertibaan atau waktu pelayanan tetap.
G = Distribusi umum perberangkatan atau waktu pelayanan.
2. Untuk huruf c, dipergunakan bilangan bulat positif yang menyatakan jumlah pelayanan paralel.
3. Untuk huruf d, dipakai kode – kode pengganti :
FIFO atau FCFS = First – In First – Out atau First – Come First – Served.
LIFO atau LCFS = Last – In First – Out atau Last – Come First – Served.
SIRO = Service In Random Order.
G D = General Service Disciplint.
4. Untuk huruf e dan f, dipergunakan kode N (untuk menyatakan jumlah terbatas) atau (tak berhingga satuan – satuan dalam sistem antrian dan populasi masukan).
Misalnya, model (M/M/1), berarti bahwa model menyatakan pertibaan didistribusikan secara Poisson, waktu pelayanan didistribusikan secara eksponensial, pelayanan adalah satu atau seorang, disiplin antrian adalah first – in first – out, tidak berhingga jumlah langganan boleh masuk dalam sistem antrian, dan ukuran (besarnya) populasi masukan adalah tak berhingga. Menurut Siagian (1987), berikut ini adalah beberapa karakteristik dari sistem antrian untuk model (M/M/1):
Format umum model : (a/b/c);(d/e/f)
di mana :
a = distribusi pertibaan / kedatangan (arrival distribution), yaitu jumlah pertibaan pertambahan waktu.
b = distribusi waktu pelayanan / perberangkatan, yaitu selang waktu antara satuan – satuan yang dilayani (berangkat).
c = jumlah saluran pelayanan paralel dalam sistem.
d = disiplin pelayanan.
e = jumlah maksimum yang diperkenankan berada dalam sistem (dalam pelayanan ditambah garis tunggu).
f = besarnya populasi masukan.
Keterangan :
1. Untuk huruf a dan b, dapat digunakan kode – kode berikut sebagai pengganti :
M = Distribusi pertibaan Poisson atau distribusi pelayanan (perberangkatan) eksponensial; juga sama dengan distribusi waktu antara pertibaan eksponensial atau distribusi satuan yang dilayani Poisson.
D = Antarpertibaan atau waktu pelayanan tetap.
G = Distribusi umum perberangkatan atau waktu pelayanan.
2. Untuk huruf c, dipergunakan bilangan bulat positif yang menyatakan jumlah pelayanan paralel.
3. Untuk huruf d, dipakai kode – kode pengganti :
FIFO atau FCFS = First – In First – Out atau First – Come First – Served.
LIFO atau LCFS = Last – In First – Out atau Last – Come First – Served.
SIRO = Service In Random Order.
G D = General Service Disciplint.
4. Untuk huruf e dan f, dipergunakan kode N (untuk menyatakan jumlah terbatas) atau (tak berhingga satuan – satuan dalam sistem antrian dan populasi masukan).
Misalnya, model (M/M/1), berarti bahwa model menyatakan pertibaan didistribusikan secara Poisson, waktu pelayanan didistribusikan secara eksponensial, pelayanan adalah satu atau seorang, disiplin antrian adalah first – in first – out, tidak berhingga jumlah langganan boleh masuk dalam sistem antrian, dan ukuran (besarnya) populasi masukan adalah tak berhingga. Menurut Siagian (1987), berikut ini adalah beberapa karakteristik dari sistem antrian untuk model (M/M/1):
A. KARAKTERISTIK SISTIM ANTRIAN
Ada tiga komponen dalam sistim antrian yaitu :
1. Kedatangan , populasi yang akan dilayani (calling population)
2. Antrian
3. Fasilitas pelayanan
Masing-masing komponen dalam sistim antrian tersebut mempunyai karakteristik sendiri-sendiri. Karakteristik dari masing-masing komponen tersebut adalah Karakteristik Antrian adalah bahwa terdapat kedatangan, antrian, dan pelayanan.
1. Kedatangan Populasi yang akan Dilayani (calling population)
Ada tiga komponen dalam sistim antrian yaitu :
1. Kedatangan , populasi yang akan dilayani (calling population)
2. Antrian
3. Fasilitas pelayanan
Masing-masing komponen dalam sistim antrian tersebut mempunyai karakteristik sendiri-sendiri. Karakteristik dari masing-masing komponen tersebut adalah Karakteristik Antrian adalah bahwa terdapat kedatangan, antrian, dan pelayanan.
1. Kedatangan Populasi yang akan Dilayani (calling population)
Karakteristik dari populasi yang akan dilayani (calling population)
dapat dilihat menurut ukurannya, pola kedatangan, serta perilaku dari populasi
yang akan dilayani. Menurut ukurannya, populasi yang akan dilayani bisa
terbatas (finite) bisa juga tidak terbatas (infinite). Sebagai contoh jumlah
mahasiswa yang antri untuk registrasi di sebuah perguruan tinggi sudah
diketahui jumlahnya (finite), sedangkan jumlah nasabah bank yang antri untuk
setor, menarik tabungan, maupun membuka rekening baru, bisa tak terbatas
(infinte).
Pola kedatangan bisa teratur, bisa juga acak (random).
Kedatangan yang teratur sering kita jumpai pada proses pembuatan/ pengemasan
produk yang sudah distandardisasi. Pada proses semacam ini, kedatangan produk
untuk diproses pada bagian selanjutnya biasanya sudah ditentukan waktunya,
misalnya setiap 30 detik. Sedangkan pola kedatangan yang sifatnya acak (random)
banyak kita jumpai misalnya kedatangan nasabah di bank. Pola kedatangan yang
sifatnya acak dapat digambarkan dengan distribusi statistik dan dapat
ditentukan dua cara yaitu kedatangan per satuan waktu dan distribusi waktu
antar kedatangan.
Contoh : Kedatangan
digambarkan dalam jumlah satu waktu, dan bila kedatangan terjadi secara acak,
informasi yang penting adalah Probabilitas n kedatangan dalam periode waktu
tertentu, dimana n = 0,1,2,.
Suatu faktor yang
mempengaruhi penilaian distribusi kedatangan adalah ukuran populasi panggilan
2. Antrian
Batasan panjang antrian bisa terbatas (limited) bisa juga tidak terbatas (unlimited). Sebagai contoh antrian di jalan tol masuk dalam kategori panjang antrian yang tidak terbatas. Sementara antrian di rumah makan, masuk kategori panjang antrian yang terbatas karena keterbatasan tempat. Dalam kasus batasan panjang antrian yang tertentu (definite line-length) dapat menyebabkan penundaan kedatangan antrian bila batasan telah tercapai. Contoh : sejumlah tertentu pesawat pada landasan telah melebihi suatu kapasitas bandara, kedatangan pesawat yang baru dialihkan ke bandara yang lain.
3. Fasilitas Pelayanan
Karakteristik fasilitas pelayanan dapat dilihat dari tiga hal, yaitu tata letak (lay out) secara fisik dari sistem antrian, disiplin antrian, waktu pelayanan, adalah sebagai berikut:
a. Tata Letak
Tata letak fisik dari sistem antrian digambarkan dengan jumlah saluran, juga disebut sebagai jumlah pelayan. Sistem antrian jalur tunggal (single channel, single server) berarti bahwa dalam sistem antrian tersebut hanya terdapat satu pemberi layanan serta satu jenis layanan yang diberikan. Sementara sistem antrian jalur tunggal tahapan berganda (single channel multi server) berarti dalam sistem antrian tersebut terdapat lebih dari satu jenis layanan yang diberikan, tetapi dalam setiap jenis layanan hanya terdapat satu pemberi layanan.
Sistem antrian jalur berganda satu tahap (multi channel single server) adalah terdapat satu jenis layanan dalam sistem antrian tersebut , namun terdapat lebih dari satu pemberi layanan. Sedangkan sistem antrian jalur berganda dengan tahapan berganda (multi channel, multi server) adalah sistem antrian dimana terdapat lebih dari satu jenis layanan dan terdapat lebih dari satu pemberi layanan dalam setiap jenis layanan.
2. Antrian
Batasan panjang antrian bisa terbatas (limited) bisa juga tidak terbatas (unlimited). Sebagai contoh antrian di jalan tol masuk dalam kategori panjang antrian yang tidak terbatas. Sementara antrian di rumah makan, masuk kategori panjang antrian yang terbatas karena keterbatasan tempat. Dalam kasus batasan panjang antrian yang tertentu (definite line-length) dapat menyebabkan penundaan kedatangan antrian bila batasan telah tercapai. Contoh : sejumlah tertentu pesawat pada landasan telah melebihi suatu kapasitas bandara, kedatangan pesawat yang baru dialihkan ke bandara yang lain.
3. Fasilitas Pelayanan
Karakteristik fasilitas pelayanan dapat dilihat dari tiga hal, yaitu tata letak (lay out) secara fisik dari sistem antrian, disiplin antrian, waktu pelayanan, adalah sebagai berikut:
a. Tata Letak
Tata letak fisik dari sistem antrian digambarkan dengan jumlah saluran, juga disebut sebagai jumlah pelayan. Sistem antrian jalur tunggal (single channel, single server) berarti bahwa dalam sistem antrian tersebut hanya terdapat satu pemberi layanan serta satu jenis layanan yang diberikan. Sementara sistem antrian jalur tunggal tahapan berganda (single channel multi server) berarti dalam sistem antrian tersebut terdapat lebih dari satu jenis layanan yang diberikan, tetapi dalam setiap jenis layanan hanya terdapat satu pemberi layanan.
Sistem antrian jalur berganda satu tahap (multi channel single server) adalah terdapat satu jenis layanan dalam sistem antrian tersebut , namun terdapat lebih dari satu pemberi layanan. Sedangkan sistem antrian jalur berganda dengan tahapan berganda (multi channel, multi server) adalah sistem antrian dimana terdapat lebih dari satu jenis layanan dan terdapat lebih dari satu pemberi layanan dalam setiap jenis layanan.
b. Disiplin Antrian
Ada dua klasifikasi yaitu prioritas dan first come first serve.
Disiplin prioritas dikelompokkan menjadi dua, yaitu preemptive dan non
preemptive. Disiplin preemptive menggambarkan situasi dimana pelayan sedang
melayani seseorang, kemudian beralih melayani orang yang diprioritaskan
meskipun belum selesai melayani orang sebelumnya. Sementara disiplin non
preemptive menggambarkan situasi dimana pelayan akan menyelesaikan pelayanannya
baru kemudian beralih melayani orang yang iprioritaskan. Sedangkan disiplin first
come first serve menggambarkan bahwa orang yang lebih dahulu datang akan
dilayani terlebih dahulu.
Karakteristik waktu pelayanan. Waktu yang dibutuhkan untuk
melayani bias dikategorikan sebagai konstan dan acak. Waktu pelayanan konstan,
jika waktu yang dibutuhkan untuk melayani sama untuk setiap pelanggan.
Sedangkan waktu pelayanan acak, jika waktu yang dibutuhkan untuk melayani
berbeda-beda untuk setiap pelanggan. Jika waktu pelayanan acak, diasumsikan
mengikuti distribusi eksponensial.
PERILAKU BIAYA
Dalam sistem antrian ada dua jenis biaya yang timbul. Yaitu biaya karena orang mengantri, dan di sisi lain biaya karena menambah fasilitas layanan. Biaya yang terjadi karena orang mengantri, antara lain berupa waktu yang hilang karena menunggu. Sementara biaya menambah fasilitas layanan berupa penambahan fasilitas layanan serta gaji tenaga kerja yang memberi pelayanan. Tujuan dari sistem antrian adalah meminimalkan biaya total, yaitu biaya karena mengantri dan biaya karena menambah fasilitas layanan.
MERUMUSKAN MASALAH ANTRIAN
Perkiraan prestasi dari sistem antrian dapat digambarkan dengan misalnya : rata-rata jumlah kedatangan dalam antrian, rata-rata waktu tunggu dari suatu kedatangan dan persentase waktu luang dari pelayanan.
Ukuran prestasi ini dapat digunakan untuk memutuskan jumlah pelayanan yang harus diberikan, perubahan yang harus dilakukan dalam kecepatan pelayanan atau perubahan lain dalam sistem antrian. Dengan sasaran pelayanan, jumlah pelayan dapat ditentukan tanpa berpatokan pada biaya waktu tunggu.
Ukuran prestasi dan parameter model antrian ditentukan dengan notasi sebagai berikut:
λ = rata-rata kecepatan kedatangan (jumlah kedatangan persatuan waktu)
1/λ = rata-rata waktu antar kedatangan
µ = rata-rata kecepatan pelayanan (jumlah satuan yang dilayani persatuan waktu bila pelayan sibuk).
1/µ = rata-rata waktu yang dibutuhkan pelayan
ρ = faktor penggunaan pelayan (proporsi waktu pelayan ketika sedang sibuk)
Pn = probabilita bahwa n satuan (kedatangan) dalam sistem
Lq = rata-rata jumlah satuan dalam antrian (rata-rata panjang antrian)
Ls = rata-rata jumlah satuan dalam sistem
Wq = rata-rata waktu tunggu dalam antrian
Ws = rata-rata waktu tunggu dalam sistem
PERILAKU BIAYA
Dalam sistem antrian ada dua jenis biaya yang timbul. Yaitu biaya karena orang mengantri, dan di sisi lain biaya karena menambah fasilitas layanan. Biaya yang terjadi karena orang mengantri, antara lain berupa waktu yang hilang karena menunggu. Sementara biaya menambah fasilitas layanan berupa penambahan fasilitas layanan serta gaji tenaga kerja yang memberi pelayanan. Tujuan dari sistem antrian adalah meminimalkan biaya total, yaitu biaya karena mengantri dan biaya karena menambah fasilitas layanan.
MERUMUSKAN MASALAH ANTRIAN
Perkiraan prestasi dari sistem antrian dapat digambarkan dengan misalnya : rata-rata jumlah kedatangan dalam antrian, rata-rata waktu tunggu dari suatu kedatangan dan persentase waktu luang dari pelayanan.
Ukuran prestasi ini dapat digunakan untuk memutuskan jumlah pelayanan yang harus diberikan, perubahan yang harus dilakukan dalam kecepatan pelayanan atau perubahan lain dalam sistem antrian. Dengan sasaran pelayanan, jumlah pelayan dapat ditentukan tanpa berpatokan pada biaya waktu tunggu.
Ukuran prestasi dan parameter model antrian ditentukan dengan notasi sebagai berikut:
λ = rata-rata kecepatan kedatangan (jumlah kedatangan persatuan waktu)
1/λ = rata-rata waktu antar kedatangan
µ = rata-rata kecepatan pelayanan (jumlah satuan yang dilayani persatuan waktu bila pelayan sibuk).
1/µ = rata-rata waktu yang dibutuhkan pelayan
ρ = faktor penggunaan pelayan (proporsi waktu pelayan ketika sedang sibuk)
Pn = probabilita bahwa n satuan (kedatangan) dalam sistem
Lq = rata-rata jumlah satuan dalam antrian (rata-rata panjang antrian)
Ls = rata-rata jumlah satuan dalam sistem
Wq = rata-rata waktu tunggu dalam antrian
Ws = rata-rata waktu tunggu dalam sistem
Minggu, 26 Maret 2017
Metode Simpleks dan Pengaplikasikan Dalam Kehidupan Sehari-Hari
PENERAPAN PROGRAM LINEAR DALAM MENGOPTIMALKAN
LABA MAKSIMUM USAHA CAKUE LING-LING DENGAN BIAYA MINIMUM
LANDASAN TEORI
A. Pengertian
Program Linear
Program
linier ditemukan dan diperkenalkan oleh George Dantzig yang berupa metode
mencari solusi masalah program linier dengan banyak variable keputusan. Program
linier adalah perencanaan kegiatan-kegiatan dengan menggunakan suatu model umum
yang dapat digunakan dalam pemecahan masalah pengalokasian
sumberdaya-sumberdaya yang terbatas secara optimal. Sistem pertidaksamaan
linear dua variabel berupa beberapa pertidaksamaan linear yang terdiri dari 2 variabel,
biasanya x atau y (walaupun jenis variabel
lainnya tetap memungkinkan). Pertidaksamaan linear dua variabel memiliki bentuk
umum seperti berikut:
ax
+ by < c, ax + by > c, ax + by ≤ c, atau ax + by ≥ c
Sebelum
menggambar daerah penyelesaian sistem pertidaksamaan linear dua variabel,
sebaiknya kita tahu terlebih dahulu mengenai himpunan penyelesaian.Himpunan
penyelesaian merupakan himpunan pengganti nilai variabel sedemikian
sehingga menyebabkan sistem pertidaksamaan menjadi pernyataan yang
benar. Daerah penyelesaian yang akan kita gambar merupakan daerah dari himpunan
penyelesaian tersebut. Daerah ini berisi himpunan pasangan berurutan (x, y)
yang menjadi anggota dari himpunan penyelesaian.
B. Permasalahan
Program Linear
Permasalahan
Program Linear adalah suatu permasalahan untuk menentukan besarnya
masing-masing nilai variable yang mengoptimumkan nilai fungsi objektif dengan
memperhatikan pembatasan-pembatasan yang ada, yaitu yang diinyatakan dalam
bentuk persamaan-persamaan atau pertidaksamaan-pertidaksamaan linear.
Suatu
permasalahan dapat dikatakan permasalahan program linear, jika memenuhi
ketentuan0ketentuan berikut.
1. Tujuan
(objektif) permasalahan yang akan dicapai harus dapat dinyatakan dalam bentuk
fungsi linear ax + by = z. Fungsi linear inin dikenal dengan fungsi tujuan
(fungsi objektif).
2. Harus
memiliki alternatif pemecahan yang membuat nilai fungsi tujuan
menjadi optimum, misalnya : keuntungan yang maksimum, pengeluaran biaya yang
minimum, dan sebagainya.
3.
Sumber-sumber yang tersedia dalam jumlah yang
terbatas, seperti modal terbatas, bahan mentah terbatas, dan sebagainya.
Pembatasan-pembatasan dari sumber yang tersedia harus dinyatakan dalam bentuk
pertidaksamaan linear.
Permasalahan program linear secara umum dapat
dirumuskan sebagai berikut.
1. Permasalahan
Program Linear Maksimasi
Fungsi
objektif maksimum : z = ax + by
Pembatsan
(syarat-syarat) : c1x + d1y ≤ e1, i = 1, 2, … n,
x ≥ 0 , y ≥ 0.
Dicari
: x dan y.
Keterangan
:
· Ada
dua macam barang yang akan diproduksi, dengan banyaknya masing-masing adalah x
dan y.
· a
dan b masing-masing menyatakan harga per satuan barang x dan y.
· c1 dan
d1 adalah banyaknya bahan mentah ke-I yang digunakan untuk
memproduksi barang x dan y.
· e1 adalah
jumlah bahan mentah ke-i.
2. Permasalahan
Program Linear Minimasi
Fungsi
objektif mainimum : z = ax + by
Pembatsan
(syarat-syarat) : c1x + d1y ≥ e1, i = 1, 2, … n,
x ≥ 0 , y ≥ 0.
Dicari
: x dan y.
Keterangan
:
· Ada
dua macam barang yang akan diproduksi, dengan banyaknya masing-masing adalah x
dan y.
· a
dan b masing-masing menyatakan besarnya ongkos per satuan barang x dan y.
· c1 dan
d1 adalah banyaknya orang ke-I yang dipekerjakan untuk
memproduksi barang x dan y.
· e1 adalah
jumlah bbiaya ke-I yang dikeluarkan.
C. Menentukan
Nilai Optimum Fungsi Objektif
1. Metode
Uji Titik Pojok
Titik
pojok merupakan sebuah titik pada atau di dalam daerah penyelesaian yang
merupakan perpotongan dua garis pembatas. Titik pojok ini sering disebut dengan
titik ekstrim. Titik-titik ekstrim inilah yang paling menentukan nilai optimum
fungsi tujuan dalam masalah program linear. Langkah-langkah dalam
menentukan nilai optimum fungsi objektif menggunakan metode uji titik pojok
yaitu :
a. Tentukan
kendala-kendala dari permasalahan program linear yang dimaksud.
b. Gambarlah
daerah penyelesaian dari kendala-kendala dalam masalah program linear tersebut.
c. Tentukan
titik-titik pojok dari daerah penyelesaian itu.
d. Substitusikan koordinat setiap titik pojok itu ke dalam fungsi objektif.
d. Substitusikan koordinat setiap titik pojok itu ke dalam fungsi objektif.
e. Bandingkan
nilai-nilai fungsi objektif tersebut. Nilai terbesar berarti menunjukkan nilai
maksimum dari fungsi f(x, y), sedangkan nilai
terkecil berarti menunjukkan nilai minimum dari fungsi f(x, y).
2. Metode
Garis Selidik
Garis
selidik ax + by = k merupakan suatu garis yang berfungsi untuk menyelidiki dan
menentukan sampai sejauh mana fuungsi objektif z maksimum atau minimum.
Langkah-langkah untuk menentukan nilai optimum fungsi objektif menggunakan
garis selidik yaitu :
a. Tentukan
model pertidaksamaan dari informasi soal dan gambarkan daerah penyelesaian dari
sistem pertidaksamaan tersebut pada bidang koordinat.
b. Tentukan
garis selidik ax + by = k apabila
fungsi objektifnya f(x, y) = ax + by, a,b,
dan k bilangan real. Aturan penggunaan garis selidik yaitu :
1) Gambar
garis ax + by = ab yang memotong sumbu x di titik (b,
0) dan memotong sumbu y di titik (0, a).
2) Tarik
garis-garis sejajar dengan ax + by = ab hingga nilai z
maksimum atau minimum.
c. Untuk
menentukan nilai maksimum, jika garis ax + by = k1 sejajar
dengan garis ax + by = ab dan berada di
paling atas atau berada di paling kanan pada daerah himpunan penyelesaian, maka
z = k1 merupakan nilai maksimumnya.
d. Untuk
menentukan nilai minimum, jika garis ax + by = k2 sejajar
dengan garisax + by = ab dan berada di paling bawah atau
berada di paling kiri pada daerah himpunan penyelesaian, maka z = k2 merupakan
nilai minimumnya.
BAB III
METODE ANALISIS
Langkah-langkah yang digunakan dalam menganalisis data
yang kami peroleh yaitu :
A. Teknik
Pengumpulan Data
Pada
prinsipnya data yang dibutuhkan dan dianalisis dalam penelitian ini bersumber
dari data sekunder. Untuk itu dibutuhkan beberapa metode pengumpulan data yang
digunakan terdiri dari kepustakaan, observasi dan interview.
Observasi
dan interview dilakukan langsung ke tempat penjualan Cakue Ling-Ling pada hari
Jum’at, 10 Oktober 2014 di sebelah barat SMA N 1 Kebumen atau di Jalan Veteran.
Adapun studi kepustakaan dilakukan dengan bantuan internet dan perpustakaan SMA
N 1 Kebumen.
B. Teknik
Pengambilan Sampel
Teknik
pengambilan sampel yang digunakan adalah probability sampling, yaitu teknik
pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur anggota
populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Permasalahan yang dihadapi
adalah bagaimana mengambil keputusan dengan memanfaatkan data yang tersedia
untuk menyelesaikan masalah dengan tujuan yang dibatasi oleh keterbatasan
tertentu. Permasalahan ini dapat diatasi dengan memanfaatkan program linear atau
MetodeLinear Programming. Metode Linear Programming terdapat
2 jenis, yaitu: metode grafik dan metode simpleks. Pada penelitian ini akan
digunakan metode grafik.
C. Rancangan
Pemecahan Masalah
Langkah-langkah awal yang harus ditentukan dalam
penyelesaian masalah dengan metode program linear adalah dengan menentukan 3
faktor utama, yaitu:
1. Variabel
keputusan ,
Produk apa saja yang akan diproduksi dan berapa jumlah
unit yang akan diproduksi
dalam suatu periode tertentu.
2. Fungsi
tujuan
z max = ax + by
3. Langkah-langkah
yang ditempuh dalam menyelesaikan penelitian adalah sebagai berikut :
1. Mengumpulkan
data sekunder yang dikumpulkan meliputi data jumlah produksi, harga jual, harga
produksi, jenis sumber daya, jumlah ketersediaan sumber daya dan jumlah
penggunaannya secara aktual.
2. Melakukan
studi kepustakaan untuk mencari teori-teori sebagai dasar pemecahan masalah
program linear terkait.
3. Memodelkan
setiap data yang diperoleh dari penelitian dan permasalahannya ke program
linier
4. Fungsi
tujuan yang akan dicapai adalah maksimasi laba. Model perumusan program linier
secara matematis dari fungsi tujuan.
5. Menentukan
titik potong dari setiap persamaan garis, kemudaian menggambarkannya dalam
koordinat cartesius untuk mendapatkan daerah himpunan penyelesaian.
6. Menentukan
titik pojok daerah himpunan penyelesaian.
7. Mensubstitusikan
titik-titik pojok daerah himpunan penyelesaian ke dalam fungsi objektif
(tujuan) untuk menentuan laba maksimum.
8. Menyelesaikan
masalah optimasi jumlah produksi dengan mengerjakan data yang telah dimodelkan
ke dalam bentuk program linear.
9. Menentukan
bagaimana caranya agar usaha tersebut dapat berkembang lebih maju.
10. Penyusunan
laporan dari penelitian yang dilakukan beserta dengan hasil perhitungan yang
diperoleh.
BAB IV
PEMBAHASAN
A. Deskripsi
Usaha
Cakue
Ling-Ling merupakan salah satu
bentuk usaha dari sekian banyak bisnis kuliner yang merambah di sekitar pusat
jajanan kuliner di wilayah Kebumen. Lebih tepatnya, usaha ini berlokasikan di
Jalan Veteran sekitar alun-alun Kebumen atau di sebalah
barat SMA N 1 Kebumen. Seperti yang telah
kita ketahui, bisnis kuliner merupakan bisnis yang terus berkembang dan tak ada
matinya dikarenakan kuliner atau makanan ini merupakan kebutuhan pokok dan
mendasar yang pemenuhannya akan terus dibutuhkan. Beragamnya jenis bisnis kuliner
ini akan terus dikembangkan mengikuti perkembangan selera masyarakat. Banyak
ragam bisnis kuliner yang telah dikembangkan, baik kuliner nusantara
(tradisional), kuliner modern, ataupun inovasi dari keduanya. Cakue Ling-Ling
ini lebih dikhususkan untuk memenuhi selera masyarakat akan ragam kuliner
tradisional, yaitu kuliner khas masyarakat Palembang yang banyak digemari dan
tidak asing lagi di lidah mayarakat Indonesia. Akan tetapi, bisnis Cakue
Ling-Ling ini masih termasuk bisnis berskala kecil. Dua produk unggulan yang
ditawarkannya yaitu Cakue dan Kue Bantal. Bisnis ini dikelola sendiri oleh pemilik modal yang juga
berperan sebagai pelaku bisnis yaitu Bu Nur Kholisah (51). Setiap harinya, bisnis Cakue
Ling-Ling ini mulai dijalankan dari pukul 14.00 sampai pukul 18.00.
Perputaran modal dan keuntungannya dihitung
per hari. Dalam sehari, kira-kira modal yang dibutuhkan yaitu sekitar Rp
50.000,- dengan perincian untuk cakue sebesar Rp 30.000,- dan untuk kue bantal
Rp 20.000-. Rata-rata dalam sehari banyaknya Cakue yang dapat terjual
yaitu sebanyak 40 buah sedangkan untuk Kue Bantal yaitu
sebanyak 45 buah . Maksimalnya dalam sehari yaitu kedua produk itu dapat
terjual sekitar 100 buah. Dari hasil penjualan itu untung yang diperoleh per
harinya untuk Cakue
dan KueBantal berjumlah sama, yaitu masing-masingnya sebesar Rp
20.000,- . Jadi, secara keseluruhan untung yang diperoleh yaitu
sebesar Rp 40.000,- atau sebesar 80% dari modal awal.
Gambar
1. Kue Bantal Gambar
2. Cakue
B. Analisis
Usaha
Dari data yang telah kami peroleh (perinciannya terlampirkan) , analisis
biaya usaha Cakue Ling-Ling terangkum dalam tabel berikut.
Tabel 1. Analisis
Biaya Usaha Cakue Ling-Ling
|
Cakue
|
Kue Bantal
|
|
|
Modal yang
diperlukan
|
Rp 30.000 ,-
|
Rp 20.000 ,-
|
|
Keuntungan yang
diperoleh
|
Rp 20.000 ,-
|
Rp 20.000 ,-
|
|
Jumlah Terigu yang
diperlukan
|
2 kg
|
1 kg
|
|
Jumlah Terigu yang
diperlukan (per satu buah produk)
|
50 gram
|
20 gram
|
|
Minyak Goreng yang
dibutuhkan
|
0,5 kg
|
0,5 kg
|
Dari tabel tersebut kita dapat menganalisis
bagaimana caranya untuk dapat memperoleh keuntungan maksimum (sebagai fungsi
objektif) melalui cara penyelesaian menggunakan program linear. Dalam
analisis ini, penulis ingin membuat analisis bagaimana untuk mendapatkan
perolehan keuntungan maksimum dengan modal yang dikembangkan. Dapat
diasumsikan jika per harinya pemilik usaha dapat memperoleh keuntungan Rp
40.000,- per hari dari modal, maka setiap harinya pemilik modal dapat
menyisihkan Rp 10.000,- dari keuntungan untuk menambah modal dengan tujuan
memperbesar usaha. Jika demikian, dalam 5 hari saja pemilik usaha dapat
menambah modalnya menjadi dua kali lipatnya.
Jika demikian, maka kira-kira jumlah cakue dan
kue bantal yang dapat dibuat maksimal sekali berkisar antara 200 buah ( Jika
biasanya maksimal sekali 100 buah produknya yang dapat terjual, maka dengan
modal yang dilipatgandakan 2 kali lipat, maka otomatis jumlah maksimal yang
dapat dibuat yaitu sekitar 200 buah).
Selain itu, diperkirakan jumlah terigu
maksimal yang dapat diperlukan jika modal dilipatgandakan menjadi dua yaitu
sekitar 7 kg. Dengan demikian diperoleh model
matematika sebagai berikut
:
Dimisalkan, x = Cakue dan y = Kue Bantal
Maka, x + y ≤ 200
50 x + 20 y ≤ 7000 --» 5x
+ 2y ≤ 700
x ≥ 0
y ≥ 0
Fungsi tujuan (untuk pencapaian modal maksimum)
adalah 20.000x + 20.000y
C. Optimalisasi
Usaha
Dalam
menentukan optimalisasi keuntungan pada usaha Cakue Ling-Ling, penulis
menganalisi dengan menggunakan program linear menggunakan metode uji titik
pojok. Dari model matematika yang telah diketahui di atas,penentuan titik
potong masing-masing garis pembatas dengan sumbu koordinat, seperti terlihat
pada tabel di bawah ini.
|
x + y = 20
|
|||
|
x
|
y
|
Titik
|
|
|
0
|
20
|
(0, 20)
|
|
|
20
|
0
|
(20, 0)
|
|
|
5x + 2 y = 700
|
|||
|
x
|
y
|
Titik
|
|
|
0
|
350
|
(0, 350)
|
|
|
140
|
0
|
(140, 0)
|
|
Diperoleh
lukisan DHP sebagai berikut :
Grafik Daerah Himpunan
Penyelsaian
Titik A (0, 200)
Titik
B --» 5x + 2y = 700 x
1 5x + 2y = 700
x + y = 200 x
2 2x + 2y = 400
3x =
300
x =
100
Maka
y = 100
Jadi
titik B (100, 100)
Titik
C (200, 0)
Kemudian
menentukan nilai maksimum dengan metode uji titik pojok.
Tabel 4. Penentuan
Fungsi Tujuan
|
Fungsi tujuan : z = 500x + 400 y
|
||
|
Jumlah Cakue (x)
|
Jumlah Kue Bantal (y)
|
Untung penjualan yang diperoleh
|
|
0
|
200
|
500 (0) + 400 (200) = 80. 000
|
|
100
|
100
|
500 (100) + 400 (100) = 90. 000
|
|
200
|
0
|
500 (200) + 400 (0) = 100. 000
|
Berdasarkan penyelesaian menggunakan program
linear tersebut untuk mendapatkan fungsi tujuan yaitu perolehan keuntungan
maksimum dapat kita lihat pada tabel di atas. Tabel tersebut menujukkan
bahwa keuntungan maksimum 100% dapat diperoleh jika pemilik usaha hanya menjual cakuenya
yaitu sebanyak 200 buah sehari. Akan tetapi, pada realisasinya usaha Cakue
Ling-Ling tersebut menawarkan dua jenis produknya. Apabila usaha Cakue
Ling-Ling hanya menyediakan Cakue belum tentu akan terjual keseluruhannya,
dikarenakan banyak konsumen yang menyukai Kue Bantal. Dengan demikian maka
pilihan kedua lebih memunginkan untuk diterapkan. Pemilik modal dapat
meningkatkan perolehan keuntungannya yang semula hanya 80% menjadi 90%.
D. Pengembangan
Usaha
Usaha Cakue Ling-Ling ini masih tergolong
usaha kecil. Akan tetapi, meskipun tarafnya masih termasuk usaha kecil,
keuntungan yang diperolehnya tergolong tinggi yaitu sebesar 80%.
Berdasarkan perkiraan yang telah penulis bahas sebelumnya, hanya dengan
melipatgandakan modalnya yang relatif sangat kecil untuk ukuran
usaha saja keuntungan yang dapat diperoleh dapat meningkat. Dengan demikian
prospek dari usaha Cakue Ling-Ling ini termasuk menjanjikan apabila
dikembangkan seoptimal mungkin.
Namun dalam realitas, menambah jumlah komoditi yang
diproduksi terkadang belum tentu dapat menambah keuntungan, bahkan terkadang
dapat membuat rugi dikarenakan peningkatan komoditi industri seringkali tidak
disertai penambahan minat dan kebutuhan masyarakat. Untuk mengatasi hal-hal
seperti ini, ada beberapa hal yang dapat menjadi solusi, yaitu dengan melihat
lokasi pasar yang tepat untuk usaha tersebut. Lokasi usaha Cakue Ling-Ling ini
termasuk lokasi yang tidak terlalu strategis untuk berusaha kuliner. Hal ini
dikarenakan lokasi jalan Veteran yang merupakan jalan yang tidak terlalu ramai
dilalui dan jalan ini termasuk jalan besar yang arus lalu lintasnya lancar,
jadi orang tidak akan begitu tertarik untuk menepi dan mencoba produk. Hal ini
dapat diatasi dengan memindahkan usaha ke sekitar Jalan Mayjend Sutoyo yang
merupakan pusat jajanan Kebumen. Di sini merupakan area ramai orang berkuliner
di sekitar jalan. Apalagi sejauh ini hanya ada satu usaha yang juga tidak
teralu besar yang juga menjual produk yang sama, yaitu Cakue. Akan tetapi, rasa
dan penyajiannya jauh berbeda. Jadi, hal ini dapat dijadikan pertimbangan.
|
Gambar 3. Lokasi Penjualan di Jalan
Veteran
|
Begitupun untuk
faktor-faktor operasional yang masih dipertahankan oleh pelaku usaha Cakue
Ling-Ling, yaitu QCT (Quality, Cost, dan Cost). Kualitas yang diberikan oleh
pelaku usaha tersebut sudah baik, seperti pelayanan yan ramah dan mutu produk
usaha. Adapun waktu pembuatan Cakue Ling-Ling relatif cepat karena sudah ahli
dalam pembuatan. Sedangkan biaya yang ditawarkan dalam setiap produk usaha
Cakue Ling-Ling sudah sesuai dengan mutu yang dihasilkan.
Langganan:
Postingan (Atom)


